Tentang Aku dan Hujan
Aku melirik jam tangan digital pink yang ada di pergelangan tangan kiriku 15.47. Terlambat 2jam 47 menit. "Untung belum jam empat", batinku dalam hati.
"Depan bang", pintaku pada kenek bis. Setelah bis berhenti, aku segera berlari secepat yang aku bisa. Jarak dari pemberhentian bis ke rumahku memang cukup jauh. Hujan turun cukup deras, aku menggunakan tas sebagai ganti payung yang seharusnya ku bawa.
"Huh..huh...huh..." aku mengatur nafas sambil membungkuk-bungkukkan badan ku. Kemudian memegang dadaku, "dud...dug...dug.." berdegup sangat kencang. Kaki ku terasa dingin, tetes air dari baju dan rambutku gugur membasahi teras rumah. Setelah detak jantungku kembali normal, aku membuka pintu rumah. Seperti biasa ayah sedang nonton televisi.
"Kok baru pulang?" tanya ayah saat aku melewati ruang nonton tv.
"Hujannnya tadi deres babget. Jadi harus tunggu reda dulu, ini aja bela-belain pulang" jawabku sambil merapikan rambutku yang basah dengan jari-jari tangan.
"Sampe basah gitu. Kamu gak bawa payung?". Tanya ayah sambil mengamatiku dari ujung rambut hingga ujung kaki yang basah diguyur hujan.
"He..he..he,,", jawabku sambil tersenyum, " aku mandi dulu deh", lanjutku.
Kemudian aku pergi ke kamar mandi. Ops sorry yah, aku gak ngomomng semuanya. Sebenarnya aku pulang telat bukan karena hujan, tapi aku gak bohong, aku menugu hujan sampai agak reda karna aku gak bawa payung. Namun, sambil menunggu hujan aku kencan dengan Satria. Kami ngobrol, curhat dan mempersiapkan kejutan untuk nanti malam. Ahh semoga semua berjalan lancar.
*****
Aku berdiri di depan cermin, mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya,"huuuuhhhhhhhh.... hooooohh....".Cukup menenangkan jantungku yang berdegup sangat cepat. Aku memandangi wajahku dalam cermin. Walau detak jantungku sudah lumayan stabil, tapi aku merasakan ada sesuatu yang menganggu dalam pikiranku. Aku tak tahu apa itu. Semoga semua berjalan lancar. Aku takut.
"Tenang, semua akan baik -baik saja", kataku menghibur diri.
Aku tersenyum di depan cermin, menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan pelan-pelan. Lalu menyisir rambur, sedikit membubuhkan bedak di wajah, lalu menambahkan lipsgloss pink rasa strawberry pada bibirku, menyemprotkan minyak wangi beraroma jeruk. Sempurna. Aku siap.
Hujan masih turun, mengingatkanku kembali pada awal pertemuan ku dengan Satria, kami berkenalan di halte tempat biasa aku menggu bus. Waktu itu juga hujan sama seperti sakarang. Seperti bisa aku tidak membawa payung,aku menunggu bis di halte, lebih lama dari hari-hari biasa, mungkin karna hujan deras, jadi busnya terjebak macet. Seperti biasa pula, cowok bertopi itu juga ada sana, entahlah aku sering melihatnya di halte ini, sering juga kami naik bus yang sama. Kami tidak saling mengenal hanya sering bertemu. Mungkin karna dia sendiri, jenuh dan bosan menunggu bus, dia mengajakku berkenalan, lalu kami ngobrol, semua mengalir begitu saja seperti air. Kami bercerita tentang segala hal, tentang sekolah, teman, tugas, film, olahraga, hobi, keluarga, no Hp, alamat e-mail, facebook, dan twitter. Dari situ ku ketahui bahwa cowok bertopi itu bernama Satria, murud kelas 3 SMA Nusa jurusan IPA, hobi futsal, anak tunggal, suka film action, punya band bernama Domb Band, dan nomor HPnya, emmm entahlah aku bukan ahli penghafal deret-deret angka, tapi aku menyimpannya di Hp ku, jadi semuanya aman. Singkatnya aku dan Satria jadian. But, I got a problem, orutku belum mengijinkan aku berpacaran sampai aku 17 tahun (pasti terdengar sangat konyol dan primitif). Namun, hari ini adalah harinya aku tepat 17 tahun bahkan lebih dua minggu, dan sebentar lagi Satria akan datang ke rumah, untuk apel yang pertama kalinya. Aku siap, semoga semuanya baij-baik saja, aku, Satria terutama ortuku.
Sambaran petir yang keras menyadarkan aku dari lamunan masa lalu ku, hujan turun semakin deras.Aku melihat jam yang ada di Hp ku, jam 06.13 p.m , telat setengah jam plus tiga belas menit dari waktu yang kita janjikan, dia berjanji akan datang pukul setengah enam.
"Mungkin dia akan sedikit terlambat. Maklum, jalanan menjadi ramai dan macet karna hujan yang turun cukup deras" batinku dalma hati.
Aku melengkah ke ranjangku, melanjutkan membaca novel yang baru ku pinjam dari Reni. Membaca akan menenggelamkan aku dalam sejuta imajinasi dan saat aku sadar, aku berharap ibu akan memanggilku, memberitahuku bahwa ada seorang teman laki-laki yang menungguku di ruang tamu.
*****
"Jo, Johana, kamu gak turun?" teriak ibu dari lamtai dasar. Hemmmp, aku ketiduran. Sial. Kok bisa sih?. Aku bergegas menuruni tangga.
Aku berlari menuju ruang tamu. Semoga Satria sudah datang. Namun, sepi. Aku tak melihat ada seorangpun disana.
"Jo, makan malam udah siap" kata ibu dari dapur.
"Tadi gak ada teman Johana yang kesini bu?" tanyaku saat aku berada di dapur dan bertemu dengan ibu.
"Nggak, kenapa?" tanya ibu sambil meletakkan mangkok berisi sup panas ke atas meja makan.
"Ibu yakin?" tanyaku kembali.
"Yakin, gak ada tu orang yang datang nyari kamu, ya kan Vit,?" tanya ibu pada Vita, adikku.
"Nggak ada, kalo ada pasti kakak udah aku panggil dari tadi, kenapa sih?"
"Tadi ada temen aku yang janji mau kesini"
"O gitu, bentar lagi mungkin. Hujannya aja baru reda. Emang siapa? Reni?"
"Ada deh.... Ya udah deh aku ke kamar dulu"
" Kamu gak makan?"
"Gak laper" jawabku sambil menaiki tangga menuju kamar.
Kok Satria belum bateng ya?, apa dia takut?. Atau ibu tadi bohong?. Aduh, kemana sih ni anak?. Telfon ja deh. Aku memutuskan untuk menelfon Satria, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku mengambil HP, di layar Hp ku tertera tulisan 1 New Massage, aku segera membacanya aku berharap itu dari Satria.
*****
Hujan telah reda, tapi airnya masih terus menggenangi hatiku, dingin dan basah. Aku kembali membaca pesan yang ada di HP ku, pesan singkat yang merubah segalanya. Pesan ini dari Iga teman Satria
Jo, yg tabah ya, Satria tlah pegi 2 jm yg lalu.
Hjn dres Dia mngalami kclakaan pas mw ke rmh km.
Sabr y.. Smoga di tenang di sna.
Satria sudah tenang disana, tapi aku masih disini, masih mencoba untuk tenang walau sangat sulit.





